Tim Tan Malaka Raih Juara 2 dan Best Presentation Berkat Gagasan “Smart Adat System”

SMA Negeri 1 SelongMataram — SMA Negeri 1 Selong kembali menunjukkan eksistensinya sebagai sekolah unggul dalam bidang akademik dan pengembangan ide kreatif. Prestasi membanggakan berhasil diraih oleh dua siswa terbaiknya, Tristan Zaki Aldizaen (X-3) dan L. Muhammad Samir Abdurrasyid (XI-4), yang sukses meraih Juara 2 serta Best Presentation pada ajang Essay Competition (ESCO) dalam rangkaian FORJUST Creative Fest (FORCE) 2025. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Mataram dan diikuti oleh peserta tingkat SMA/SMK/MA sederajat se-Pulau Lombok.

 

ESCO merupakan kompetisi esai ilmiah tahunan yang mendorong pelajar untuk mengemukakan gagasan kritis terkait isu-isu strategis. Pada tahun 2025, panitia mengusung tema futuristik: “Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Manusia: Menimbang Peran AI dalam Membangun Dunia yang Berkeadilan, Cerdas, dan Berkelanjutan.”

 

Tristan menjelaskan bahwa kompetisi ini menjadi wadah penting bagi siswa untuk berpikir kritis terhadap persoalan aktual. “Lomba ini diadakan oleh Universitas Mataram melalui Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik,” jelasnya.

 

Sementara itu, Samir menuturkan bahwa ketertarikan mereka terhadap isu kecerdasan buatan semakin kuat karena melihat tingginya antusiasme masyarakat dalam memanfaatkan teknologi AI. “Kami ingin terus mengasah kemampuan di bidang ini. Masyarakat sangat antusias menggunakan kecerdasan buatan, jadi kami ingin mengangkat tema tersebut dalam karya kami,” ujarnya.

 

Dalam kompetisi ini, Tim Tan Malaka mengusung esai berjudul “SDS (Smart Adat System)”, sebuah gagasan aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang bertujuan menjembatani hukum adat dan hukum negara.

 

Tristan menjelaskan bahwa ide ini berangkat dari fenomena sosial yang masih sering terjadi di Lombok. “Smart Adat System adalah aplikasi yang memanfaatkan AI untuk menjembatani hukum adat dan negara. Ide ini muncul karena maraknya kasus pernikahan dini di Pulau Lombok. Kami ingin menghadirkan solusi inovatif yang tetap menghormati budaya, namun tetap selaras dengan hukum yang berlaku,” tuturnya.

 

Samir menambahkan bahwa aplikasi ini dirancang untuk memberikan rekomendasi, analisis, serta solusi hukum berbasis data dengan tetap mengedepankan perlindungan anak dan keadilan sosial. “Kami berharap aplikasi ini dapat membantu masyarakat mengambil keputusan sesuai hukum tanpa mengabaikan nilai adat yang hidup turun-temurun,” jelasnya.

 

Proses penyusunan esai bukan tanpa hambatan. Menurut Tristan, tantangan terbesar terletak pada tahap perencanaan konsep aplikasi. “Bagian paling menantang adalah merancang aplikasi dan memastikan efektivitasnya dalam mencegah pernikahan dini. Kami harus banyak riset agar sesuai dengan hukum yang berlaku,” ujarnya.

 

Mereka menggali berbagai sumber mengenai hukum adat, undang-undang pernikahan, perkembangan kecerdasan buatan, hingga studi kasus di masyarakat. Hal ini menunjukkan ketelitian sekaligus kemampuan akademik mereka sebagai pelajar.

 

Selain meraih Juara 2, Tim Tan Malaka juga berhasil menyabet penghargaan Best Presentation. Menariknya, keduanya mengaku tidak melakukan persiapan khusus. “Tidak ada persiapan khusus. Kami hanya mempersiapkan presentasi dengan baik,” ujar Samir.

 

Kesederhanaan tersebut justru menjadi kekuatan utama mereka: penyampaian yang jelas, percaya diri, serta didukung pemahaman mendalam terhadap materi.

 

Tristan dan Samir mengakui bahwa keberhasilan mereka tidak terlepas dari dukungan lingkungan sekitar. “Teman-teman seperjuangan dan keluarga sangat mendukung selama proses pembuatan esai ini,” kata Tristan.

 

Perasaan lega dan bangga pun mereka rasakan saat dinyatakan sebagai pemenang. “Kami cukup senang dan merasa perjuangan kami terbayar. Alhamdulillah hasilnya sesuai harapan,” ungkap Samir.

 

Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi SMA Negeri 1 Selong yang terus berkomitmen menciptakan budaya berpikir kritis, inovatif, dan berwawasan global.

 

Di akhir wawancara, mereka memberikan pesan inspiratif bagi rekan-rekan pelajar lainnya. “Jangan takut mencoba hal baru. Kalau kita tidak berani mencoba, kemampuan kita akan tetap di situ-situ saja,” ujar keduanya.

 

Untuk masa depan, Smart Adat System masih berada pada tahap prototype. Meski demikian, keduanya optimistis terhadap masa depan ide ini. “Kami berharap ke depannya konsep ini dapat diterima masyarakat dan bisa dikembangkan lebih lanjut,” tutup mereka kompak.

 (V3)