Podcast KPU Lombok Timur Gandeng SMA Negeri 1 Selong, Edukasi Generasi Muda Lawan Politik Uang
SMA Negeri 1 Selong – Selong --- Upaya
memerangi praktik politik uang tidak cukup hanya dengan regulasi dan penegakan
hukum. Perubahan pola pikir generasi muda dinilai menjadi kunci utama. Inilah
yang melatarbelakangi KPU Kabupaten Lombok Timur menggelar podcast edukatif
bersama pelajar di SMA Negeri 1 Selong, Selasa 10 Februari 2026.
Mengusung tema “Money Politik Zaman Now: dari
Amplop hingga Giveaway”, kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Divisi Teknis
Penyelenggaraan KPU Lombok Timur Mulyadi, S.Pd., M.Ak., Kepala Sekolah Dr.
Hj. Sri Wahyuni, serta dua siswa kelas XII sebagai representasi pemilih
pemula, Daffa Alifabyan dan Nila Safira. Acara dipandu Baiq
Sarifa Wahida dari KPU.
Suasana diskusi berlangsung santai namun serius. Tema
yang diangkat terasa dekat dengan realitas keseharian mereka.
Dalam pemaparannya, Mulyadi menegaskan bahwa politik
uang merupakan ancaman nyata bagi kualitas demokrasi. “Di undang-undang
memang tidak ada definisi kata money politik, tapi praktiknya jelas dilarang.
Memberi uang atau materi untuk mempengaruhi pilihan pemilih itu pidana,”
tegasnya.
Ia menyebut politik uang sebagai “penyakit
demokrasi” karena merusak kebebasan memilih. Menurutnya, ketika suara
dibeli, rakyat tidak lagi menentukan pilihan berdasarkan visi, misi, dan
program kerja calon. “Yang terjadi, pemimpin terpilih justru sibuk
mengembalikan biaya politiknya. Dari situ lahir korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Dampaknya panjang, bukan sehari, tapi lima tahun,” jelasnya.
Bahkan, lanjutnya, bentuk politik uang kini makin
beragam. Tidak lagi amplop berisi uang tunai. “Sekarang bisa transfer
digital, voucher belanja, pulsa, top up, atau giveaway. Bahkan janji-janji
tertentu pun bisa termasuk politik uang kalau tujuannya mempengaruhi pilihan,”
tambahnya.
Kepala sekolah Sri Wahyuni menilai pendidikan
karakter menjadi benteng utama mencegah siswa terjerumus praktik serupa. Menurutnya,
sekolah tidak hanya mengajarkan teori demokrasi, tetapi mempraktikkannya
langsung melalui berbagai kegiatan, seperti pemilihan ketua OSIS secara
langsung, umum, bebas, dan rahasia. “Anak-anak harus berani bersikap. Kalau
melihat pembagian uang, jangan diam. Diam itu tanda paling lemah. Harus berani
menegur dengan cara yang baik,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kepercayaan diri dan
prinsip kuat. “You are the leader of your own self. Kalau sudah bisa
memimpin diri sendiri, godaan apa pun tidak akan mudah mempengaruhi,”
katanya.
Daffa dan Nila menunjukkan pemahaman yang matang
tentang isu politik uang. Daffa menyebut fenomena tersebut kini semakin “modern”.
“Dulu mungkin amplop. Sekarang bentuknya giveaway, kaos, pulsa. Lebih
transparan tapi tetap membeli suara,” ujarnya.
Sementara Nila menyoroti faktor ekonomi dan
lingkungan sosial sebagai penyebab banyak orang tergoda. “Kadang karena
kebutuhan hidup, kadang karena ajakan teman. Tapi dampaknya besar untuk masa
depan kita semua,” katanya.
Keduanya menegaskan akan menolak jika suatu saat
ditawari praktik serupa.
Diskusi semakin hidup ketika sesi pertanyaan dibuka. Arini
Nisaa Hana Fakhira mempertanyakan mengapa politik uang terus terjadi meski
sudah ada larangan hukum. Menanggapi hal itu, Mulyadi menjelaskan bahwa faktor
kesejahteraan, pendidikan, budaya, dan kemauan politik menjadi penyebab utama. “Kalau
penghasilan sehari Rp50 ribu lalu ditawari Rp250 ribu, tentu menggoda. Karena
itu solusi tidak cukup hukum saja, tapi juga pendidikan dan kesejahteraan,”
ujarnya.
Pertanyaan berikutnya datang dari Haerani Agustin
yang berbagi pengalaman melihat langsung praktik “serangan fajar”. Ia
mengaku sempat ditegur saat mencoba menolak pemberian uang.
Tentang pelaporan, Mulyadi menekankan bahwa pelapor
akan dilindungi kerahasiaannya. “Identitas pelapor dirahasiakan. Jangan
takut. Yang memberi dan menerima sama-sama melanggar hukum,” tegasnya.
Devina Aura kemudian menyoroti efektivitas peran KPU.
Mulyadi menjelaskan bahwa kewenangan KPU lebih pada pendidikan pemilih. “Kami
lakukan sosialisasi berkelanjutan. Kalau mindset masyarakat sudah menganggap
politik uang itu penghinaan, otomatis mereka akan menolak,” katanya.
Sementara Baiq Rara Maulidya menyinggung narasi
populer di media sosial: “Ambil saja uangnya, jangan pilih orangnya.”
Menurut Mulyadi, cara tersebut tetap keliru. “Menerima
tetap melanggar. Yang benar itu tolak dan laporkan,” ujarnya tegas.
Di penghujung acara, para narasumber menyampaikan
pesan penutup.
“Jadilah pemilih cerdas, katakan tidak pada
politik uang,” ujar Mulyadi.
Sri Wahyuni menambahkan, “Bangun karakter dan
kepercayaan diri. Kalau prinsip kuat, tidak akan tergoda.”
Nila mengajak teman-temannya menjadi generasi bijak,
sementara Daffa menekankan bahwa satu suara dapat menentukan masa depan bangsa.
Melalui kegiatan ini, KPU Kabupaten Lombok Timur
berharap benih-benih demokrasi bersih tumbuh sejak bangku sekolah. Sebab, masa
depan pemilu yang jujur dan adil tidak hanya ditentukan aturan, tetapi oleh
kesadaran generasi mudanya.
(V3)