Hasya Nur Fidayanti berhasil Raih Beasiswa Kedokteran di University of Toronto melalui Immerse Education
SMA Negeri 1 Selong – Selong --- Semangat
pantang menyerah mengantarkan Hasya Nurfidayanti, siswi kelas XII-2 SMA
Negeri 1 Selong, menorehkan prestasi di kancah internasional. Ia berhasil
menjadi Runner-up sekaligus peraih 30% Partial Scholarship Awardee pada ajang
Immerse Education Essay Competition 2026 dan memperoleh kesempatan mengikuti
program musim panas di University of Toronto, Kanada, dalam bidang kedokteran.
Perjalanan Hasya menuju pencapaian tersebut tidak
dimulai dari kemenangan, melainkan dari rasa kecewa. Ia mengaku mengetahui
kompetisi ini saat sedang berada di titik terendah setelah tidak lolos sebagai
finalis OPSI. Waktu menuju seleksi perguruan tinggi semakin dekat, sementara
perasaan ragu dan insecure sempat menghampiri. Namun, ia memilih untuk tidak
menyerah.
“Saya tidak mau kalah sama perasaan insecure saya
sendiri,” ujarnya.
Dari situ, Hasya mulai aktif mencari peluang
kompetisi internasional. Ia menggali informasi dari media sosial seperti
TikTok, Instagram, hingga pencarian di Google. Minatnya pada bidang kedokteran
dan kecintaannya terhadap Biologi membawanya menemukan kompetisi esai
internasional berbasis di Inggris tersebut. Dengan tekad kuat, ia pun
memberanikan diri mendaftar.
Keikutsertaannya didorong keinginan untuk menguji
kemampuan di level global. Ia ingin mengetahui sejauh mana ide dan kemampuan
menulis akademiknya bisa diakui secara internasional. Selain itu, topik-topik
yang ditawarkan dinilainya menantang sekaligus relevan dengan masa depan dunia
medis.
Hasya sendiri bukan baru dalam dunia riset. Sebagai
anggota Karya Ilmiah Remaja (KIR), ia telah beberapa kali mengikuti lomba
penelitian, termasuk seleksi Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam menyusun esai ilmiah.
Dalam kompetisi ini, ia mengangkat judul “The
Double-Edged Sword of CRISPR: Between Medical Miracles and Ethical Boundaries”.
Meski tema besar telah ditentukan panitia, Hasya memperdalam isu teknologi
CRISPR dari sudut pandang etika kedokteran. Ia menyoroti pentingnya kesetaraan
akses bantuan medis, terutama di Indonesia yang kaya keberagaman, bahkan secara
khusus mengangkat Papua sebagai contoh.
Tantangan terbesar baginya justru datang dari batasan
teknis. Esai harus ditulis maksimal 500 kata, sementara topik CRISPR dan
kedokteran menurutnya sangat luas untuk dibahas secara mendalam. Ia harus
pandai merangkum gagasan kompleks dalam ruang yang terbatas.
Untuk mempersiapkan esai agar sesuai standar
internasional, Hasya memperbanyak literasi dan membaca berbagai jurnal. Kendala
bahasa Inggris sempat menjadi hambatan, tetapi ia berusaha memahami satu per
satu ketentuan lomba. Berbekal dasar penulisan ilmiah dari pembinaan guru-guru
KIR, ia mengerjakan semuanya secara mandiri. Ia menyusun jadwal kerja: hari
pertama mencari jurnal, lalu membuat kerangka berpikir, menyusun draf, hingga
evaluasi. Seluruh proses itu ia selesaikan dalam waktu sekitar tujuh hari.
Menariknya, selama proses tersebut Hasya nyaris tidak
meminta bantuan siapa pun. Ia lebih banyak belajar dari contoh karya tulis dan
pengalaman riset sebelumnya.
Momen pengumuman menjadi kenangan tak terlupakan.
Hasya mengaku sangat terkejut sekaligus bangga ketika mengetahui namanya
tercantum sebagai peraih beasiswa parsial.
“Mengingat tahun ini rekor pendaftar terbanyak
dari seluruh dunia, mendapatkan pengakuan sebagai Scholarship Awardee adalah
pencapaian yang sangat saya syukuri,” katanya.
Di balik keberhasilan itu, keluarga menjadi sistem
pendukung utama. Meski awalnya tidak mengetahui Hasya mengikuti kompetisi ini,
mereka selalu memberikan ketenangan dan doa. Nasihat keluarga sederhana namun
bermakna: setiap tulisan harus membawa nilai kebermanfaatan. Pesan itulah yang
mendorongnya menulis esai kedokteran yang tidak hanya membahas teknologi,
tetapi juga keadilan akses kesehatan.
Keberhasilan tersebut dirayakan secara sederhana. Doa
bersama dan makan malam keluarga menjadi wujud syukur. Kebahagiaan semakin
lengkap karena kemenangan itu bertepatan dengan ulang tahun sang bunda,
sehingga terasa seperti hadiah istimewa.
Prestasi internasional ini semakin menguatkan tekad
Hasya untuk menempuh jalur kedokteran. Baginya, pencapaian ini membuktikan
bahwa pelajar Indonesia, dari daerah mana pun, mampu bersaing secara
intelektual di tingkat dunia.
Meski mendapatkan tawaran mengikuti program musim
panas di Toronto—yang juga menjadi cita-citanya sejak kelas 10—Hasya dan
keluarga memilih fokus pada persiapan masuk perguruan tinggi dalam negeri.
Beasiswa tersebut ia jadikan bukti kompetensi akademik untuk menunjang langkah
selanjutnya.
Pengalaman ini juga membentuk pandangannya tentang
dunia medis. Ia menyadari bahwa inovasi tanpa etika akan timpang. Seorang calon
dokter, menurutnya, harus visioner sekaligus rendah hati dan berpegang pada
kode etik.
Di akhir wawancara, Hasya menitipkan pesan untuk
pelajar lain yang bermimpi menembus kompetisi internasional: jangan takut
mencoba dan berani keluar dari zona nyaman. Menulis dengan sepenuh hati tentang
hal yang disukai, katanya, bisa membuka pintu-pintu kesempatan yang tak
terduga.
(V3)